Mana Lebih Efektif: Menyimak Teks Lisan atau Teks Tulis?

 


Selama masa pandemi, pembelajaran daring menjadi pilihan utama di sekolah-sekolah. Di tengah keterbatasan ini, seorang guru dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Muttaqillah, mencoba melakukan eksperimen unik: menguji perbedaan kemampuan siswa dalam menyimak teks lisan dan teks tulis.

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan UIN Jakarta, menggunakan media Google Form sebagai alat bantu. Hasilnya cukup mengejutkan—siswa lebih baik dalam menyimak teks tulis daripada teks lisan.

Apa yang Dimaksud Menyimak Lisan dan Tulisan?

  • Menyimak lisan adalah proses mendengarkan suara, seperti guru berbicara langsung atau melalui rekaman video.
  • Menyimak tulisan berarti membaca teks secara diam-diam atau nyaring, lalu memahami isinya.

Keduanya penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Namun, apakah hasilnya sama?

Cara Penelitian Dilakukan

Penelitian ini melibatkan 18 siswa yang mengikuti tes melalui Google Form. Materi yang diujikan adalah tentang kata tanya (apa, siapa, mengapa, bagaimana, dll). Peneliti memberikan dua jenis soal:

  • Soal teks lisan berasal dari video YouTube.
  • Soal teks tulis berasal dari blog pribadi peneliti.

Setelah itu, siswa menjawab soal-soal pilihan ganda yang mengukur seberapa baik mereka menyimak.

Apa Hasilnya?

Rata-rata nilai:

  • Menyimak lisan: 87
  • Menyimak tulisan: 92

Selisih 5 poin ini menunjukkan bahwa teks tulis lebih mudah dipahami siswa dibandingkan teks lisan. Hal ini juga diperkuat oleh wawancara dengan guru-guru, yang menyatakan bahwa teks tulis lebih mudah diakses dan dimengerti, terutama dalam pembelajaran daring.

Mengapa Teks Tulis Lebih Unggul?

  • Siswa bisa membaca berulang-ulang teks tulis hingga benar-benar paham.
  • Teks tulis tidak tergantung pada kualitas suara atau alat pendengaran seperti teks lisan.
  • Di masa daring, koneksi internet yang buruk bisa membuat video tersendat atau tidak jelas.

Peran Google Form dalam Pembelajaran

Google Form bukan hanya untuk membuat survei, tapi juga sangat efektif untuk:

  • Memberikan soal dan materi pembelajaran.
  • Menghemat kertas dan waktu.
  • Mengumpulkan data siswa secara cepat dan efisien.

Namun, tantangan terbesar tetap ada pada akses internet. Hanya 63% siswa yang bisa mengikuti tes karena keterbatasan kuota atau jaringan.

Apa Makna Temuan Ini?

Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kondisi pembelajaran jarak jauh, teks tulis bisa menjadi pilihan utama untuk melatih keterampilan menyimak siswa. Namun, itu bukan berarti teks lisan diabaikan. Justru, guru perlu menyesuaikan metode penyampaian dengan kondisi dan fasilitas siswa.

 

Kesimpulan:
Dalam pembelajaran daring, menyimak tulisan terbukti lebih efektif daripada menyimak lisan. Guru perlu mempertimbangkan kondisi siswa dan memanfaatkan media seperti Google Form untuk meningkatkan pemahaman mereka. Kombinasi metode dan teknologi yang tepat bisa menjadi kunci sukses pembelajaran Bahasa Indonesia, bahkan dari rumah.

Hasil Penelitian Dapat Diunduh di Sini!

https://jurnal.umj.ac.id/index.php/SEMNASFIP/article/view/23489


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahasa Gaul dalam Cerpen Siswa: Merusak Sastra atau Justru Bikin Cerita Makin Hidup?

Penilaian Kontinu: Rahasia Guru Bahasa Indonesia Meningkatkan Semangat dan Prestasi Siswa

Menulis Eksposisi Tak Lagi Sulit: Cukup Mulai dari Menulis Berita!