"Tarim" dan P5RA: Solusi Cerdas Menjaring Cerpen Siswa di Era Digital
Mengumpulkan karya tulis siswa, terutama cerpen, seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi guru Bahasa Indonesia. Tantangan ini tak hanya pada aspek teknis, seperti pengumpulan dan penyuntingan, tapi juga dalam hal bagaimana membuat karya tersebut bermakna dan berdampak. Berangkat dari kebutuhan itu, lahirlah metode TARIM — singkatan dari Tidak Ribet dan Memudahkan — yang menjadi inovasi cerdas di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.
Apa itu TARIM?
TARIM bukan sekadar metode, melainkan pendekatan yang menggabungkan teknologi, kreativitas, dan kepraktisan. Melalui aplikasi Google Form yang diintegrasikan dalam LMS (Learning Management System) milik madrasah, siswa dapat langsung menulis dan mengirim cerpen mereka secara daring. Tidak perlu lagi mengumpulkan lembaran kertas atau mengetik ulang naskah secara manual.
Berpijak pada Kegiatan P5RA
TARIM tidak berdiri sendiri. Ia berpadu apik dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil Alamin (P5RA). Selama sepekan, siswa terlibat dalam beragam kegiatan tematik seperti shalat duha, tadarus, mengenal budaya nusantara, hingga membuat kerajinan khas daerah. Dari sinilah muncul ide-ide segar yang kemudian dituangkan dalam bentuk cerpen.
Hasil yang Membanggakan
Lewat pendekatan ini, ratusan cerpen berhasil dikumpulkan hanya dalam hitungan hari. Tidak hanya itu, karya-karya tersebut dipublikasikan dalam bentuk:
-
Website literasi (misalnya: materibahasaindonesiaaja.blogspot.com)
-
Buku digital berbasis flipbook (fliphtml5.com)
-
Buku cetak yang siap dikenang sepanjang masa
Lebih dari itu, evaluasi menunjukkan bahwa nilai rata-rata menulis cerpen meningkat dari 85 menjadi 90 setelah siswa mengikuti P5RA. Siswa juga menunjukkan karakter positif: merasa senang, mendapat wawasan baru, dan lebih mudah menulis cerita.
Mengapa Ini Penting?
Kegiatan ini bukan hanya soal menulis cerpen. Ia adalah proses pendidikan karakter, penguatan literasi, dan pembelajaran yang bermakna. TARIM dan P5RA telah membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, teknologi bisa menjadi jembatan kreativitas dan pendidikan nilai.
Penutup
Inovasi pendidikan tidak selalu harus mahal atau rumit. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk berbagi. Semoga TARIM bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lain dalam membumikan literasi di tengah derasnya arus digital.
https://jurnal.umj.ac.id/index.php/SEMNASFIP/article/view/23489

Komentar
Posting Komentar